
“Nyala takkan terlalu lama, Padam akan datang lebih segera”
“Jika harus jadi maka jadilah, Jika harus mati maka matilah”
“Semoga matimu matimuda, Semoga matiku matimuda”
“Hidup tak perlu terlalu lama, Jika dosa yang berkuasa”
Petikan lirik lagu “Mati Muda” yang dilantunkan oleh Festivalist tersebut paling tidak menjadi penggema dalam hari-hari yang dijalani. Layaknya sebuah manifesto kehidupan, lirik lagu tersebut membuat saya kembali merefleksikan hidup dan kehidupan, setidaknya kembali merenung agar lebih berguna bagi sesama. Namun tulisan saya kali ini bukan membahas harmonisasi nada dan sebagainya. Penggalan lagu tersebut sekedar menjadi pengantar ketika kita lebih baik mati muda jika hidup bergelimang dosa dan tidak berguna. Secara tidak sengaja ketika mentari hari kedua bulan maret tahun ini menyingsing, rasa penasaran tiba-tiba membawa saya membuka salah satu search engine dengan keyword Gorontalo. Hal ini sebenarnya sering saya lakukan ketika sedang homesick.
Beberapa halaman berlalu dan mata saya tertuju pada sebuah baris kalimat bercetak tebal bertuliskan “Sultan Muhammad Iskandar (Gorontalo)”. Seketika saya terperanjat dan bertanya dalam hati, siapakah beliau? Mungkin karena keterbatasan informasi saya tentang bumi Hulonthalangi maka saya sama sekali tidak menginderai nama Sultan tersebut atau memang sang Sultan luput dari catatan sejarah.
Jam berganti dan berlalu, saya pun melakukan berbagai cara demi menemukan mozaik-mozaik yang bercerita tentang sultan. Mulai dari keywords Gorontalo, Hulondalo, Hulonthalo, Limbotto, Limboto, Suwawa, Bonda, Atinggola hingga Andagile. Akan tetapi belum menemukan yang saya cari, yaitu siapa sebenarnya Sultan Muhammad Iskandar yang muncul di awal tadi. Maka saya pun membubuhi pencarian saya dengan manuskrip Gorontalo. Setelah dua jam terlewati, masih belum juga menemukan apa-apa. Maka saya mengganti referensi bahasa dengan English Service. Dan tebakan saya pun membuahkan hasil. Referensi sejarah Gorontalo cukup banyak terhampar di depan mata. Saya pun mulai menyelidiki satu per satu artikel dan website yang dibubuhi cerita Gorontalo, lebih spesifik lagi yang membahas tentang Sultan Muhammad Iskandar.
Akhirnya saya mendapati, bukan hanya satu Sultan Gorontalo yang muncul tetapi sekitar 6 nama Sultan yang ditandai sebagai Sultan yang pernah berkuasa di Gorontalo. Hal yang membuat saya bahagia ketika hampir sebagian besar Sultan tersebut di identifikasi melalui “manuskrip surat” yang dibuatnya dan ditujukan kepada orang yang sama yaitu General Willem Arnold Alting, serta sebagian lagi didapat melalui artikel sejarah dan cerita rakyat online. Akan tetapi hal yang paling membingungkan saya adalah ke-6 Sultan yang tertulis di sebagian besar artikel tersebut memiliki kemiripan nama. Bingung, karena banyak pertanyaan seperti, apakah ke-6 Sultan tersebut adalah orang yang sama? Atau mereka adalah orang yang berbeda? Siapa sebenarnya Sultan yang pernah berkuasa?
Ke-6 Sultan yang berhasil ditemukan dan tercatat dalam “penelitian maya” saya adalah
Ø Sultan Muhammad (ditulis berkuasa di Limboto)
Ø Sultan Iskandar Bija (ditulis diasingkan ke Ceylon dan dikebumikan disana)
Ø Raja Iskandar Monoarfa (ditulis berkuasa tahun 1758)
Ø Sultan Muhammad Iskandar (bersurat ke Jendral Belanda 26 rajab 1205)
Ø Sultan Muhammad Iskandar Hasanuddin (ditulis pada dua artikel van Gorontalo)
Ø Paduka Muhammad Hasanuddin Iskandar Panglima Syah (bersurat kepada Jendral Belanda)
Akhirnya saya mendapatkan bukti kunci untuk memecahkan sebenarnya siapa Sultan Muhammad Iskandar yang didapati di awal penelitian maya saya. Bukti manuskrip surat yang merupakan bukti otentik yang dilayangkan kepada General Willem Arnold Alting.

Surat Sultan Muhammad Iskndar Hasanuddin van Gorontalo kepada governor general Willem ArnolAlting, 26 Rajab 1205 (31 Maret 1791)
Dari surat tersebut saya kemudian melakukan pelacakan dan identifikasi analogis dengan referensi yang ada. Indikatornya mulai dari identifikasi pengirim dan penerima surat, identifikasi waktu yang tercantum pada surat dan wilayah kekuasaan dari beberapa kajian cerita rakyat. Akhirnya saya memberanikan diri untuk mengambil kesimpulan mendasar. Pertama, ketiga Sultan yang saya data sebelumnya yaitu Sultan Muhammad, Sultan Iskandar Bija, dan Raja Iskandar Monoarfa adalah tiga orang Sultan yang pernah berkuasa dan bukan merupakan Sultan Muhammad Iskandar yang saya cari di awal tulisan ini. Sementara 3 Sultan yang saya tulis selanjutnya disimpulkan sebagai satu orang Sultan yang sama. Dalam artian, ketiga Sultan yang memiliki kemiripan nama dan ditulis di beberapa website tersebut memang benar satu orang yang sama, yaitu:
“Sultan Muhammad Iskandar alias Sultan Muhammad Iskandar Hasanuddin alias Paduka Muhammad Hasanuddin Iskandar Panglima Syah”
Bukti validnya yaitu 1 Surat beliau dengan 3 versi nama Sultan pada beberapa laporan manuskrip seperti disebutkan diatas. Ketiga versi nama Sultan tersebut dicantumkan sebagai penguasa Gorontalo. Surat tersebut pula ditujukan kepada orang yang sama yaitu General Willem Arnold Alting dengan tanggal yang sama yaitu 26 Rajab 1205 Hijriyah atau 31 Maret 1791 Masehi. Adapun isi surat tersebut adalah “Dinyatakan bahwa Raja Gorontalo meminta kepada Belanda agar harga kain yang dibelinya bisa ditukar dengan emas yang dihasilkan di Gorontalo. Selain itu, raja juga mengabarkan perilaku pedagang Bugis.”
Dalam penelitian maya kali ini saya berkesimpulan bahwa Kesultanan Gorontalo (Pohala’a Hulonthalo) pernah memiliki seorang Sultan bernama “Sultan Muhammad Iskandar alias Sultan Muhammad Iskandar Hasanuddin alias Paduka Muhammad Hasanuddin Iskandar Panglima Syah”. Disisi lain, keberadaan manuskrip surat menjadi sangat penting bagi sejarah Gorontalo karena menjadi bukti otentik masa lampau. Surat Sultan membuktikan pula bagaimana cara Kesultanan berinteraksi dengan Belanda, yaitu dengan menggunakan tulisan Arab-Gundul (pegon) dan dibumbuhi dengan stempel Kesultanan Gorontalo bercap merah. Tidak hanya itu, emas sebagai salah satu bargaining Gorontalo menjadi jelas kebenarannya. Kini yang menyisakan tanya adalah bagaimana sistem pendidikan di masa itu sehingga interaksi menulis dapat menggunakan huruf Pegon? Berapa lama periode berkuasanya Sultan Muhammad Iskandar alias Sultan Muhammad Iskandar Hasanuddin alias Paduka Muhammad Hasanuddin Iskandar Panglima Syah? Serta dimana beliau dimakamkan? Semoga pertanyaan tersebut dapat dijawab oleh saya secara pribadi ketika melakukan penelitian sederhana selanjutnya. Semoga pula tulisan ini dapat memperkaya khasanah pengetahuan sejarah kita terhadap bumi “Hulonthalangi – Negeri seribu satu Sultan”.
Lembah Phinisi,
27 Rabiul Akhir, 1434 H (9 Maret 2013 M)
Ditulis oleh: Fiqhi Rizky || @fiqhoy ||
Sebuah ide segar kembali ditelurkan oleh empunya ide kreatif, kak Sawing dan kak Bobhy yang ingin melukiskan kembali hingar bingar kenangan di #Rumah beserta kerinduan didalamnya. Hal tersebut kembali menggeliat tatkala mereka membaca tulisan maya yang dibuat oleh kak Rio yang bertajuk “Visiting my Home”. Esensi dari itu semua pada dasarnya ialah “kerinduan” akan #Rumah itu sendiri.
Menyahuti hal tersebut maka tergerak hati ini untuk ikut serta dalam perhelatan launching #Rumah bersama kawan-kawan lainnya dalam team-work launching #Rumah yang terdiri dari kak Rio, kak Hasrul, Sari, Fikar, Afif, Satkar, Evan, Ignas, dan Fiqhi. Banyak yang harus diceritakan perihal kegiatan yang merupakan langkah awal dari #Rumah. Bingung juga mau dimulai darimana, tapi saya akan semaksimal mungkin melukiskannya dalam kanvas maya ini. Semoga takkan ada yang terlewati…
Tepat semalam sebelumnya, kami berempat yaitu kak Rio, Fikar dan Sari berdiskusi di sebuah kedai sederhana mengenai acara esok harinya yang akan digelar di Kampung Buku. Kebetulan tempat tersebut merupakan kediaman dari kak Anwar Jimpe Rahman, alumni HI. Hal utama dalam perbincangan kami mengenai beberapa foto yang belum tercetak serta video dari kak Sawing dan kak Bobhy yang masih dalam tahap finishing. Belum lagi yang membuat kami makin ketar ketir yakni mengenai cuaca kota Daeng yang ‘galau’ (baca : panas terik dihantui hujan tak menentu), bahkan sering mengalami badai. Teriring doa atas kelancaran acara esok, maka kami pun menyelesaikan perbincangan.
Finally, tibalah kita pada hari H kegiatan, hari minggu, 5 februari 2012 acara pun diinisiasikan dimulai pukul 1 siang sesuai rencana awal. Pada saat itu cuaca sangat terik, dan kami pun mensyukurinya (baca : hujan jangan marah). Namun, karena sesuatu dan lain hal alias kendala teknis, acara pun sempat molor beberapa jam. Belum lagi pada pukul 11.00, kami masih berkutat pada tahap penyelesaian kelengkapan acara seperti sound-system, tata letak foto, penyelesaian caption foto, dan tentunya konsumsi bagi kakak-kakak.
Acara pun baru dimulai pada sore harinya, dimana saat itu sudah banyak kakak-kakak yang hadir dan antusias menanti dimulainya acara. Akhirnya acara pun dimulai dengan delivery speech dari kak Rio. Setelah itu, dengan bantuan Satkar ’09, maka tulisan tentang #Rumah yang disadur dari tulisannya kak Bobhy dibacakan dengan seksama. Terbias haru dari raut wajah beberapa kakak yang sempat terekam dalam memori saya ketika mendengar tulisan yang berjudul “Rumah dan Cinta” itu. Betapa tidak, tulisan tersebut seraya cermin yang kembali menggetarkan memori kenangan yang pernah dilalui bersama di dalam #Rumah. Kalimat demi kalimat menjadi pembenaran bahwa kehangatan #Rumah bukan sekedar halusinasi semu yang dibuat-buat.
“Rumah akan tetap seperti “rumah” seperti sedia kala, ia selalu dipuja karena memberi kehangatan tapi ia pun selalu rela dihadiahi sumpah serapah meski ia tak patut disalahkan. Rumah ini tak butuh “followers” hangga puluhan ribu. Rumah ini hanya akan tetap menjadi rumah dengan pintu yang selalu terbuka bagi siapa pun dan bisa dikunjungi kapan saja. Jika sedang letih dan berjalan tanpa arah maka kesinilah berbagi cerita”
begitulah petikan bait tulisan kak Bobhy yang menggetarkan itu.
Beranjak ke agenda kegiatan selanjutnya yaitu “sharing story” dari foto-foto yang tertata apik, sebagai upaya menyuratkan kembali memori kerinduan dan cerita kenangan akan #Rumah. Pada saat itu yang menjadi pembukanya adalah kak Ancha yang menceritakan tentang aksi pertama yang menolak kenaikan biaya spp. Oleh sebab itu, kita harus memberikan apresiasi kepada aksi tersebut, karena biaya spp sampai sekarang Alhamdulillah terjangkau. Kembali ke benang merah, sharing story dilanjutkan oleh Kahima 2011-2012 Abdullah Fikri Ashri, Satkar dan Ayu. Terbesit dalam untaian foto yang mereka share adalah mengenai begitu banyak kisah yang dilalui ketika berada di #Rumah. Kisah itu bukan semata-mata kenangan semu melainkan sebuah pengalaman berharga yang mewarnai setiap hela nafas di dunia ini. Hangatnya kekeluargaan yang mengalir deras tanpa jeda, ukiran suka maupun duka yang terlewati bersama, tawa, canda serta linangan air mata suka serta duka seakan hadir memenuhi ruangan. Setiap relung jiwa yang hadir serasa berada dalam lorong waktu, kembali ke masa-masa yang tertuang dalam foto-foto tersebut. “ini bukan sekedar cerita, ini bukan sekedar baying-bayang, melainkan realitas kehidupan yang dikenang dan kembali menyeruak”, ucapku dalam hati. Tentunya apa yang disampaikan tersebut dapat menjadi bumbu perekat dan berpijak kedepan.
Setelah itu kami memasuki sesi rehat. Kue dua jenis di teras rumah seakan-akan sahut menyahut menoleh perut saya yang memang terasa keroncongan. Setelah beberapa kue dihabiskan dengan lahap, suara syahdu kembali menggema menegur kalbu. Ditengah mentari yang menyingsing malu di peraduan petang, saya dan kakak-kakak pun sejenak bertemu dan beradu pinta pada Tuhan.
Tak terasa, sore berganti malam. Untaian bintang gemintang menerangi angkasa seraya pertanda setuju menanti bergulirnya kembali acara demi acara. Seakan-akan rembulan berbisik “lanjutkanlah, hujan tak akan menjenguk ranting malam ini”.
Saat malam menjelang, acara video screening akhirnya dimulai. Video yang diunduh oleh kak Dede tersebut akhirnya bisa ditampilkan setelah sebelumnya dibuat oleh kak Sawing dan kak Bobhy beserta kaka-kakak lainnya di Jogjakarta. Ada 3 hal yang dijelaskan dalam video tersebut, yaitu “apa itu Rumahi”, “kenapa perhelatan pertama beragendakan pameran foto”, serta “apa harapan Rumahi kedepannya”. Video tersebut seraya menjadi jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang tersebut diatas.
Selepas itu, kami beralih ke acara selanjutnya, yaitu “akustikan”. Agenda akustikan dibuka oleh penampilan dari kakak-kakak alumni HI angkatan ‘90an, yang diwakili oleh kak Gego, kak Rovky, kak Ahmad Madina. Selain kakak-kakak yang tersebut diatas, datang pula kak Arief Wicaksono, kak Abdul Rahim, kak Yu Sakuma, kak Nyoman Anna M., kak Rudy Daud serta tentunya kak Anwar Jimpe Rahman.
Pada sesi akustikan tersebut semua orang terbawa hanyut dalam lirik dan harmonisasi nada yang dimainkan. Salah satu lagu yang masih tergiang di telinga saya adalah lagu here without you yang dibawakan oleh kak Gego dan kawan-kawan. Lagu yang sangat nikmat dicicipi jiwa saat malam menjelang.
Setelah berakustik ceria, masuklah kami pada sesi terakhir yaitu sharing story alumni ’90-an. Dengan penuh semangat, para alumni menceritakan pengalaman, kenangan dan kerinduan ketika berada di #Rumah. cerita seputar kampus dan segala problematika saat menjadi pengurus pun tak lupa diceritakan oleh kak Mamat, kak Okki, kak Rahim, kak Yuma, kak Chiki, kak Gego serta kak Jimpe dan kak Arif. Seperti yang saya jelaskan sebelum, senyum manis tersimpul bias kembali terpancar dari raut wajah kakak-kakak yang hadir mendengar cerita dari para Alumni. Kadang diselingi gelak tawa ketika cerita pengalaman lucu terhatur dari kakak-kakak Alumni. Sempat pula semua orang yang hadir pada malam itu diselimuti keharuan saat mendengar cerita dari kak Gego. Duka laksana kilat kembali menyeruak ketika kak Gego menceritakan kisahnya bersama sahabat karibnya yang ternyata dengan cepat harus kembali keharibaan sang Khalik Illahi Rabbi. Teriring doa dalam hati saya, terpanjatkan pinta atas ketenangan dan tempat yang layak nan abadi disisi-Nya.
Tak terasa malam semakin larut, cerita indah memang terukir manis dan sangat panjang hingga waktu harusnya tak akan pernah bisa berujung. Namun tibalah masanya jua, seluruh yang hadir pada malam itu harus dipisahkan oleh waktu karena malam semakin larut meskipun kisah belumlah usai. Acara tersebut akhirnya ditutup dengan sesi penorehan kesan dan pesan terhadap #Rumah di message-board.
#Rumah tak lain dan tak bukan adalah tempat kita berteduh dari terpaan badai yang menusuk relung jiwa. Badai itu kelam, Badai itu luluh lantak, Badai itu jatuh bangun, Badai itu tantangan yang menghadang, Badai itu nyala semangat yang berkobar, Badai itu jenaka yang merias duka. Badai tak selamanya mendung hitam memendam sukma, karena Badai pun yang menguatkan kalbu, badai itu pun yang mendewasakan jiwa yang terkadang rapuh ditelan peristiwa. Terima kasih #Rumah, tempat aku mengenal bintang dan meteor, tempat aku berteduh, bergelut, merindu, menguat dan bermetamorfosa selayaknya insan manusia sejati meskipun belum sempurna karena rentang waktuku bersama #Rumah terbilang baru sejenak. Di #Rumah yang sederhana kita harusnya mampu mengenali sanubari, apa, siapa serta mengapa kita harus menuliskan kebaikan di lembaran kehidupan yang sangat singkat. #Rumah yang diisi oleh secercah cahaya kekeluargaan membias menebar penuh kebersamaan. Ini bukan sekedar interupsi kata menghayal nirwana, namun goresan hati yang diracik dari realitas syahdu yang berteduh dalam #Rumah meskipun baru sejenak masa.
*NB: foto-fotonya menyusul ya…
Makassar, 16 Rabiul Awal 1433 H (8 februari 2012 M), pukul 14.58 wita
FRD